Kampung Hidroponik Surabaya
← Kembali ke Blog
Kampung Hidroponik Surabay Kompas
Berita

Dari Lahan Sempit ke Gerakan Besar, Kampung Hidroponik Surabaya Menanam Harapan

oleh Ahmad Fauzi·5 Juni 2026

Di tengah padatnya permukiman Surabaya, sebuah gerakan kecil yang lahir dari keterbatasan yang tumbuh menjadi harapan baru bagi ketahanan pangan dan ekonomi warga.


Dari Lahan Sempit ke Gerakan Besar, Kampung Hidroponik Surabaya Menanam Harapan

SURABAYA, KOMPAS.com - Di tengah padatnya permukiman Surabaya, sebuah gerakan kecil yang lahir dari keterbatasan yang tumbuh menjadi harapan baru bagi ketahanan pangan dan ekonomi warga.

Kampung Hidroponik Surabaya bukan sekadar tempat menanam sayur, melainkan ruang belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama di tengah hiruk-pikuk kota.

Renni Susilawati, ketua Kampung Hidroponik Surabaya, mengisahkan bahwa semua bermula tanpa rencana besar. Dia bersama beberapa warga mencoba memulai gerakan baru berupa hidroponik di kawasan Medokan Ayu Utara.

Langkah awal yang dilalui tidaklah mudah, keterbatasan pengetahuan tentang hidroponik menjadi tantangan utama. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat untuk mencoba membuka jalan melalui pengajuan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

“Kita coba bikin proposal, nah akhirnya di tahun 2019 itu ada salah satu bank yang memang ada program urban farming itu,” cerita perempuan yang biasa disapa Renni itu kepada Kompas.com, Selasa (14/4/2026).

“Kita usulin karena tempatnya sempit dan tidak memiliki fasum juga sehingga memilih hidroponik itu. Awalnya tidak mengerti apa-apa tentang hidroponik itu, walaupun saya lulusan pertanian. Saat saya lulus S1 belum ada apa itu istilah hidroponik,” katanya lagi.

Renni pun mengakui bahwa proses awal penuh dengan kebingungan, bahkan dalam hal teknis seperti penyusunan proposal hingga rencana anggaran biaya.

Dari titik itulah perjalanan dimulai, perlahan belajar dari nol, membangun sistem bersama, hingga akhirnya mampu mengembangkan empat titik kebun hidroponik yang menjadi fondasi awal gerakan ini.

Kampung Hidroponik Surabaya disela-sela
Disela

Bertahan di Tengah Pandemi, Menemukan Makna Baru

Sayangnya, ketika pandemi Covid-19 datang, aktivitas di kebun menghadapi ujian yang tidak ringan. Pembatasan sosial membuat interaksi warga menjadi sangat terbatas, bahkan untuk sekadar berkumpul dan merawat tanaman bersama.

“Akhir tahun 2019, kita kan mulai tanam pertama dan panen pertama awal April sudah masuk Covid. Petugas kelurahan sudah keliling menyampaikan masyarakat tidak boleh keluar dan bertemu dengan tetangga dan lain-lain,” ujar Renni.

Situasi tersebut membuat aktivitas yang sebelumnya dilakukan secara gotong royong harus berubah drastis. Kebun yang biasanya ramai hanya didatangi segelintir orang dengan penuh kehati-hatian.

Selipin gambar di antara
waw

“Agak riskan juga saat itu, jadi kita hanya 2-3 orang saja yang ke kebun. Agak singit-singitan gitu saat ke kebun. Karena di Surabaya itu saklek banget aturannya saat Covid,” katanya.

Baca juga: Cerita Budi, Gen Z yang Pilih Cangkul daripada Berdasi, Sukses Bangun Greenhouse Melon

link youtube coy

awokawwako aok

#Orang#asdfoaoj